Pameran Puisi Kontemporer BUCIN SINDROM
Dipublikasikan pada: 07 October 2025
Sidoarjo – Sabtu (4/10/2025), Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo kembali menghadirkan kegiatan sastra setelah sekian lama vakum melalui acara Pameran Puisi Kontemporer BUCIN SINDROM karya Afrizal Malna. Acara yang digelar pukul 19.00 di Dekesda ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali geliat kesusastraan di Sidoarjo.
Dalam sambutannya, Ketua Komite Sastra Dekesda menegaskan bahwa dunia sastra membutuhkan dorongan baru untuk berkembang. Ia menyebut bahwa “orang sastra adalah orang-orang pilihan”, yang memiliki peran menjaga keberlanjutan ekspresi bahasa di tengah arus zaman. Hadir pula tokoh sastra yang lain seperti Ferdi Afrar, mantan Ketua Komite Sastra Dekesda, yang ikut menyemarakkan acara.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Ketua Komite Sastra, dilanjutkan dengan memasuki arena pameran puisi kontemporer di Galeri Dekesda. Acara kemudian berlanjut dengan pidato kebudayaan yang disampaikan oleh Ribut Wijoto dan Afrizal Malna.
Dalam pidatonya, Ribut Wijoto menyinggung perubahan situasi budaya saat ini, di mana masyarakat mulai meninggalkan teks sebagai medium utama. Ia menyampaikan bahwa Afrizal Malna mencoba mengakomodasi kebiasaan-kebiasaan baru, mulai dari chat pribadi, corat-coret desain, hingga status media sosial, untuk dimasukkan ke dalam bentuk seni yang lebih luas.
Sementara itu, Afrizal Malna menegaskan bahwa puisi tidak akan pernah mati. Ia juga menyinggung hubungan erat antara puisi, politik, dan produk budaya. Menurutnya, puisi akan terus berganti bentuk, berganti baju agar mampu bertahan menghadapi zaman.
Sebagai rangkaian lanjutan, pada Minggu (5/10/2025) pukul 17.00 di tempat yang sama, Komite Sastra Dekesda menggelar Workshop Puisi Kontemporer. Dalam kegiatan ini peserta dibimbing untuk memahami apa itu puisi kontemporer sekaligus diajak membuat karya secara langsung di atas kertas karton. Hasilnya, berbagai jenis puisi lahir dari tangan peserta dan kabarnya akan turut dipamerkan di Galeri Dekesda hingga 10 Oktober mendatang.
Melalui pameran dan workshop ini, Afrizal Malna memperlihatkan bahwa teks bukan sekadar kata-kata, melainkan jembatan yang menghubungkan pembaca dengan pengalaman, ingatan, dan sesama penulis. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemicu lahirnya gagasan baru untuk perkembangan sastra di Sidoarjo dan memberi ruang dialog yang lebih luas bagi generasi penulis berikutnya. [Sya]
Kembali ke Daftar Berita
Dalam sambutannya, Ketua Komite Sastra Dekesda menegaskan bahwa dunia sastra membutuhkan dorongan baru untuk berkembang. Ia menyebut bahwa “orang sastra adalah orang-orang pilihan”, yang memiliki peran menjaga keberlanjutan ekspresi bahasa di tengah arus zaman. Hadir pula tokoh sastra yang lain seperti Ferdi Afrar, mantan Ketua Komite Sastra Dekesda, yang ikut menyemarakkan acara.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Ketua Komite Sastra, dilanjutkan dengan memasuki arena pameran puisi kontemporer di Galeri Dekesda. Acara kemudian berlanjut dengan pidato kebudayaan yang disampaikan oleh Ribut Wijoto dan Afrizal Malna.
Dalam pidatonya, Ribut Wijoto menyinggung perubahan situasi budaya saat ini, di mana masyarakat mulai meninggalkan teks sebagai medium utama. Ia menyampaikan bahwa Afrizal Malna mencoba mengakomodasi kebiasaan-kebiasaan baru, mulai dari chat pribadi, corat-coret desain, hingga status media sosial, untuk dimasukkan ke dalam bentuk seni yang lebih luas.
Sementara itu, Afrizal Malna menegaskan bahwa puisi tidak akan pernah mati. Ia juga menyinggung hubungan erat antara puisi, politik, dan produk budaya. Menurutnya, puisi akan terus berganti bentuk, berganti baju agar mampu bertahan menghadapi zaman.
Sebagai rangkaian lanjutan, pada Minggu (5/10/2025) pukul 17.00 di tempat yang sama, Komite Sastra Dekesda menggelar Workshop Puisi Kontemporer. Dalam kegiatan ini peserta dibimbing untuk memahami apa itu puisi kontemporer sekaligus diajak membuat karya secara langsung di atas kertas karton. Hasilnya, berbagai jenis puisi lahir dari tangan peserta dan kabarnya akan turut dipamerkan di Galeri Dekesda hingga 10 Oktober mendatang.
Melalui pameran dan workshop ini, Afrizal Malna memperlihatkan bahwa teks bukan sekadar kata-kata, melainkan jembatan yang menghubungkan pembaca dengan pengalaman, ingatan, dan sesama penulis. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemicu lahirnya gagasan baru untuk perkembangan sastra di Sidoarjo dan memberi ruang dialog yang lebih luas bagi generasi penulis berikutnya. [Sya]